Sebuah lagu mungkin berarti sebuah nama. Sebuah nama mungkin adalah sebuah hujan, sebuah tempat, sebuah benda atau sebuah aroma…
Mereka akan mengingatkan sebuah nama. Yang membuat kita tiba-tiba tertunduk, terpekur. Bibir tiba-tiba bergetar, dan mata terasa memanas, ulu hati seperti diiris sembilu.
Sebuah nama yang bisa membuat kita sontak terputus dengan masa kini. Mata melihat tapi tak lagi menyaksikan, sebab ia menatap ke dalam. Jauh, di pelosok ingatan.
Sebuah nama boleh jadi adalah sebuah kantung air mata. Tidak melulu karena ia menyakiti. Kadang kala juga lantaran bukan dia di sini hari ini, pada saat kita berpikir semestinya seluruh perjalanan waktu kita adalah dia yang mengisinya.
Dan saat kita kembali ke keadaan nyata dimana kita kini terjaga, kita tahu bahwa dia tinggal kenangan. Terlalu jauh untuk kita bisa mengapainya kembali. Ia menjadi bagian dari waktu yang telah berlalu.
Kita tidak bisa memutar waktu tapi kita masih bisa memutar lagunya. Lagu yang terdengar sepanjang saat-saat berjalan bersisian dengannya seperti saat lapar menyerang bumi dan roti mc.donald's menjadi alternatif mengisi kekosongan perut. Meski sedang lapar tetapi senyumnya tetap awet,dan itu membuatku benar-benar kenyang. Lewat semua itu kita ingin memberi penghargaan bahwa dia dan kisahnya pantas untuk dikenang.
Kita bisa memutar langkah menyusuri tempat yang berdua pernah datangi. Membayangkan punggungnya ada di sana supaya kita katakan bahwa dia hanya satu di seluruh dunia ini. Tiada lagi pribadi seperti dia bahkan kembarannya sekalipun adalah pribadi tersendiri jua. Bagaimanapun, Sebuah nama tak kan pernah terganti.***
Kuala Lumpur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar