Senin, 07 November 2011

GERHANA UNTUK VENUS II

Venus menguap jenuh.
perjalanan 3 jam dipesawat ini seperti di jalaninya lebih dari sehari.
predikat the best maskapai delay benar benar di tunjukkan maskapai ini dengan sempurna,
pesawat yang dia tumpangi menuju menado baru di terbangkan 2.5 jam dari jadwal yang seharusnya.

"bosaaaaaaaan...'"
Venus berteriak dalam hati dan mengeliat kan badan di kursi kelas ekonomi yang sempit dengan hati hati,
-kuatir gerakan badan membuat kamera sony PD 170 yang berada di pangkuan selama perjalanan di pesawat itu, menyenggol wanita paruh baya yang duduk tertidur di sebelahnya-



mata nya yang sayu karena mengantuk, memperhatikan gumpalan awan dari balik kaca pesawat.
dan mp3 yang - memutar lagu lagu dewa 19 - terpasang di telinga tak mampu lagi mengusir kejenuhan.

Venus tidak merubah posisi duduk sampai suara pria -di barengi suara seperti gelombang radio yang di pasang tidak pas- keluar dari atas kabin pesawat, memberitahukan kalau beberapa saat lagi pesawat yang di tumpanginya akan mendarat di bandara sam ratulangi menado.

Venus memajukan letak kursi, memeriksa sabuk pengaman dan menarik kabel putih mp3 dari balik rambut  yang berantakan, memindahkan ujung kabel mp3 itu ke bawah lubang audio kamera PD nya,
dan tak brapa lama ibu jari venus sudah menyentuh tombol rec kamera,serta perhatiannya sudah tertuju pada LCD kamera yang menampil kan gambar bandara sam ratulangi dari balik kaca pesawat.

Venus berjalan pelan pelan di lorong bandara.
matanya memperhatikan segala sesuatu di sekitar nya dengan serius.
Venus ingin mengambil banyak stok shot gambar dengan kamera.
ini pertama kali venus ke kota ini, semua hal menarik yang dia lewati tak boleh ada yang luput dari pengawasan lensa kamera.
semakin banyak gambar, semakin baik buat venus menyusun berita di jakarta nanti.

Venus terus memperhatikan sekeliling selama kaki kurusnya berjalan menuju tempat pengambilan bagasi pesawat,
Dari mulai arsitektur bandara yang sangat khas daerah itu, luas bandara yang mengingat kan venus pada luas bandara ngurah rai bali, dan interior bandara yang banyak menampil kan gambar gambar potensi wisata di sulawesi utara.

Tepat ketika ransel besar nya dia temukan di antara antrian bagasi penumpang lain, venus teringat kalau dia belum menghubungi tara dari dia menginjakan kaki di tanah sulawesi ini.
venus melirik jam tangan besar yang masih terseting waktu jakarta, jarum jam ada di angka 3.20 sore.
berarti di menado sudah hampir setengah lima.

Gurat panik mulai terlihat di wajah venus.
Dia teringat perkataan nya pada tara, kalau pesawat akan tiba sekitar pukul 12 siang tadi,
dan ini sudah sangat jauh dari perjanjian di telfon kemarin sore dengan tara.

Venus mencari cari telfon seluler dari tas kecil tempat dia menyimpan barang barang penting miliknya setiap dia melakukan perjalanan luar kota.
menghidup kan dan menggeser tombol naik turun, mencari nomer tara dengan tergesa gesa.

Venus hampir menjerit ketika suara operator telfon mengatakan credit pulsa tidak cukup untuk melakukan panggilan.
Mata venus langsung mencari kios penjual pulsa, setengah berlari dia menuju pintu bertulis kan EXIT yang cukup besar,melewati beberapa orang sekaligus,bahkan beberapa di antara mereka tersenggol tas gunung venus, dan venus hanya menampilkan cengiran lebar tanpa benar benar perduli akan omelan beberapa orang yang tersenggol.

Venus sudah tidak memperhatikan lagi apapun di sekitar nya, yang dia perdulikan hanya sebuah kios yang menempel kan sebuah kertas foto copy an di kaca kios, bertuliskan " ADA PULSA".

******

Venus gelisah menunggu telfonnya di angkat oleh tara. 
tapi baru ketika dia mempertimbangkan membanting telfon, suara itu akhir nya terdengar.

"hallo...???"

"bapak tara...??"
"ini venus pak... maaf pak saya baru kasih kabar.."
"pesawat saya delay pak... bapak masih mau tolong saya khan..??"
"saya sungguh minta maaf pak.."
"ini di luar kemampuan saya pak, dan seharus nya saya telfon bapak tadi sebelum terbang, tapi saya lupa pak.."
"sekali lagi maaf pak..."

Venus bicara dengan cepat, hampir tak memberi kesempatan lawan bicara nya menjawab apapun dan terus mengoceh tanpa henti.

'mmm... eheem.. bu venus sebentar... boleh saya bicara dulu...?'
Ada nada memohon yang cukup dalam dari seberang sana.

Venus menutup mulut.


"haloo...?? bu venus..??"

"ooh iya pak.. maaf..."

"begini, sebenarnya saya tidak datang menjemput ibu, karena saya ada keperluan mendadak."

Venus lemas.

"jadi tidak ada yang jemput saya pak..??"
Venus mengusap wajah dengan gelisah.

"saya memang tidak bisa menjemput bu venus, tapi saya sudah meminta petugas hotel tempat bu venus akan tinggal selama di sini untuk menjemput ibu.."

"hotel tempat saya akan tinggal...???"

"iya bu, maaf saya memutus kan lebih dulu, jadi karena saya tidak bisa menjemput ibu,
saya mencari hotel yang memiliki fasilitas penjemputan untuk tamu"
"ibu tidak keberatan kan..?? "
Suara di seberang telfon itu terdiam, memberi kesempatan venus untuk menjawab.

"Ooo..."
Venus tidak tau harus menjawab apa.
terlalu bingung sendirian di kota dan pulau yang baru pertama dia datangi, dan memulai segalanya tanpa siapapun yang dia kenal.

"tapi saya janji bu venus,setelah saya selesai dengan urusan saya, saya pasti langsung temui ibu di hotel."
"dan saran saya ibu istirahat dulu di sana, nanti selepas magrib saya janji sudah datang ke tempat ibu menginap"

mereka berdua sama sama terdiam beberapa saat.

venus menarik nafas panjang.
"baiklaah pak.. tidak apa apa. saya akan ke hotel dulu beristirahat sebentar sambil menunggu bapak."

Ada hembusan nafas lega dari suara di sana dan venus menyadari tanpa berkomentar.
"truss nama hotel nya apa yak pak..? petugas hotel nya seperti apa..?? seragam nya atau apa nya gitu...??"
"karena dari tadi saya belum di hubungi atau melihat ada tanda tanda seseorang menjemput saya.."

"oiya bu...?? sebentar saya hubungi hotel nya.. mungkin... mmm...."

"astagaaaaaaaa......"
Venus berteriak syok.

"ibu venus...?? ada apa bu...??"
Ada nada panik terdengar disana.

"astagaaaaa... paaak.... bapak ngga kasih nomer saya ya ke petugas hotel nya..??"
Venus menggeram.

"saya khan belum punya nomer bu venus.. kemarin saya lupa untuk tanya ke ibu... nomer telfon yang ibu gunakan telfon saya kemarin, saya hubungi tapi sibuk terus.."
"saya juga tidak sempat bertanya ke mas ari nomer telfon ibu.."
"maaf bu.. ada apa yaa...??"
suara itu terdengar bingung.

"aaarrgh.. aryaduta hotel bukan yang bapak cari kan untuk saya...??"

"iya bu.. kok tau..? sudah ada yang menghubungi ibu...?"
suara itu semakin bingung

mata venus menatap seorang pria paruh baya berseragam Hotel berwarna gelap, yang kedua tangan memegang papan bertulis kan nama nya dan di tulis sangat besar.
venus melangkah cepat ke arah pria tersebut tanpa memperduli kan suara tara yang ber halo halo di ujung telfon, tangan venus menarik lengan pria berseragam itu.

"saya venus pak.. dan saya mohon turun kan papan itu"
nada suara venus yang mengisyarat kan perintah, membuat pria itu spontan menarik tangan dengan terkejut dan wajah penuh keheranan memandang venus.

"maaf pak.. saya bikin bapak kaget.. saya venus pak.. tamu yang harus bapak jemput."
venus langsung tersenyum ramah dan memasang wajah memohon maaf karena bersikap tidak sopan.

"ooh.."
pria itu diam sesaat, memandang venus dengan tajam,
lalu memberi isyarat dengan tangan kanan yang masih memegang papan besar bertulis nama venus.

"baik nona.. mari saya bantu mengangkat barang anda.. silahkan lewat sini.."

venus menyerahkan ransel dengan terus memandang wajah penjemputnya tanpa bicara apapun,
walaupun masih ada guratan heran yang tersisa di wajah, pria ini mendahului venus mengarah kan tubuh tambunnya ke parkir bandara tanpa berkata apa apa lagi.
venus mengikuti langkah pria itu sambil menatap lagi layar hp dan menyadari kalau sambungan telfon belum di tutup oleh tara.

"yaaa bapak tara....?"

"ada apa ya bu venus...??"

"ngga ada yang penting sebenarnya.. cuma saya agak kaget seseorang memegang papan bertuliskan nama saya dengan sangat besar.. sebenarnya saya tidak suka kalau penjemput saya menggunakan cara itu untuk mencari saya... menurut saya itu menyebalkan."

venus berbicara dengan berbisik, kuatir di dengar penjemputnya..
tapi nada jengkel tersirat jelas di suara venus, dan venus tidak perduli.
dia memang sudah jengkel pada tara dari pertama kali pria tua itu - venus sudah mengambil kesimpulan mengenai usai tara tanpa perlu bertemu-  memanggil "IBU" pada venus di telfon.
dan kali ini dia sudah tidak ambil pusing lagi kalau pria itu tersinggung, toh dia juga memang sudah membatalkan diri menjemput venus di bandara khan..?
jadi peduli apa..?! pikir venus.

"haaa...??"
hanya itu yang terdengar dari tara.

"oke.. pak tara. sampai nanti malam.."
"saya sudah mau naik ke mobil"
venus mengakhiri pembicaran telfon dengan tara dan langsung mematikan ponsel tanpa basa basi lagi, memasukan ponsel itu kedalam tas kecil nya lalu naik ke mini bus bertuliskan "aryaduta hotel" yang pintu nya sudah di buka oleh si penjemput.

venus kembali memasang kamera dalam posisi on,
venus ingin mengambil beberapa stok gambar jalan - jalan di menado
dari balik kaca bening mini bus itu, venus mengambil sebuah gambar tulisan besar di gapura bandara
'SITOU TIMOU TUMOU TOU'

venus menerka nerka apa arti tulisan itu dan berfikir untuk bertanya pada penjemput sekaligus supir mini bus, tapi kemudian dia mengurungkan niat.
mungkin nanti dia akan menanyakan pada mbah google apa maksudnya.
venus nyengir sendiri membayangkan kalau google itu betul betul seorang kakek tua yang tau segalanya atau nenek tua cerewet tapi sangat pintar.
dan cengiran venus makin lebar ketika membayangkan ternyata mbah google itu adalah si tua tara.

venus menutup bibir secara reflek ketika si supir mini bus menatap dengan aneh dari kaca spion tengah, pasti si supir itu menerka venus anak perempuan kurang waras - belum lagi insiden papan nama di bandara tadi -
jadi venus berfikir lebih baik berpura pura fokus pada angle gambar di kamera dari pada dia mengejek tara.

dalam hati sebenar nya venus heran kenapa nama tara terus ada di kepalanya dari semenjak mereka berbicara di telfon, padahal dia laki laki tua yang menjengkelkan.
"tua...? aaah..." venus malas membayangkan dia harus bersama pria lanjut usia menyebalkan selama beberapa hari kedepan.

venus memutus kan untuk menikmati pemandangan kota menado yang baru pertama kali dia datangi dari balik LCD kamera daripada dia memikirkan hal hal yang bisa membuat bosan.


sekitar 30 menit kemudian mini bus yang venus tumpangi sudah memasuki halaman hotel aryaduta yang cantik.

venus bergegas turun dan tersenyum ke penjemput nya dengan tulus, walaupun si penjemput membalas dengan senyum terpaksa dan masih memancarkan gurat aneh ke arah venus.

venus cuek dengan wajah aneh si penjemput.
dia melangkah cepat ke arah front office hotel, menanyakan nomer kamar yang sudah di pesankan tara dan bergegas langsung ke arah lift ketika kunci kamar 302 sudah di tangan, venus juga membiarkan seorang bell boy membawakan ransel besar nya.

hotel tempat venus menginap terletak tidak jauh dari pinggir pantai yang di kenal dengan kawasan bolevard, kawasan itu merupakan pusat pertokoan dan pantai yang cukup menawan untuk di lihat, venus mengetahui itu dari bell boy yang membawakan ransel nya tadi.
dan venus yakin pemandangan pantai dan kota menado pasti indah di lihat dari jendela kamar. 


venus langsung membuktikan pikiran nya begitu dia sampai di dalam kamar.
matahari memang sudah meredup, tapi sisa sisa cahaya kuning dari sang surya membias dan terlihat bagai kristal kristal yang bertaburan di hamparan laut sulawesi yang sangat luas.
kristal kristal cahaya itu berbaur dengan ombak yang sepertinya sedang tinggi tapi tetap memilin buih buih ombak besar itu dengan indah.

siluet sebuah gunung menjulang sangat sempurna seperti sebuah segitiga raksasa yang misterius menjadi hal yang paling menarik perhatian venus.
venus penasaran apa nama gunung itu, tapi badcover putih gading yang membalut tempat tidur kamar hotel yang bernuansa coklat kayu itu lebih menarik perhatian venus untuk merebahkan diri.
lagi pula masih banyak waktu untuk menikmati pemandangan dari kamar hotel kan..?

dia mengeset alarm di ponsel ke pukul 6.30 petang, dia tidak mau mengambil resiko tertidur hingga pagi karena terlalu nyamannya kasur tempat tidur itu, dan malah melupakan janji bertemu dengan tara malam ini.


tak merasa perlu membuka spatu kets dan menganti baju, - seperti dugaan awal - venus tertidur karena lelah.
*****

venus mengeliat malas ketika tidur nya terganggu suara alarm yang dia set sebelum tertidur.
dengan sedikit pusing karena terkejut, venus mengusap ujung kiri bibir nya dari air liur.

venus menelentang tubuh di atas kasur, dan mengarah kan pandangan ke arah luar hotel.
sekarang langit sudah mulai berteman bintang walaupun belum benar benar gelap, dan sepertinya tidak ada tanda tanda akan hujan.

terkantuk kantuk venus berdiri, mencari saklar lampu kamar.
menyalakan lampu dan menguap ke arah cermin rias besar yang berhadapan langsung dengan kasur tempat tidur.

venus memandangi wajah nya yang sangat kacau,
masih terlihat jelas ada bekas sarung bantal di pipi kiri.
venus berfikir seperti nya dia butuh mandi,
tapi malas sedang senang dengan diri nya.
toh dia hanya akan bertemu pria tua kan..?
jadi buat apa tampil mempesona...?
sikat gigi dan sedikit air untuk menghilang kan sisa kerak liur di pipi sudah cukup pikir venus.

venus tersadar dari lamunan ketika ponselnya kembali berbunyi tapi kali ini bukan alarm lagi tapi panggilan masuk.
itu pasti tara, dan venus benar.

"yaa pak..??"
venus berujar tanpa basa basi.

"selamat malam bu venus.. saya mungkin 15mnt lagi sampai di tempat ibu, kita ketemu di lobby hotel bisa..?"
suara tara yang tenang menunjukan kalau dia tak menggubris suara tak ramah venus tadi.

"bisa pak.."
venus kembali diam.

"oke.. 15 mnt lagi di lobby hotel, sampai nanti ibu venus."

venus menutup telfon,dan kembali menunjukan raut segan.

venus menimbang untuk menelfon mbak ayu sebelum membersihkan diri,
tapi kemudian dia mengurungkan niat,
nanti setelah bertemu tara baru venus akan menelfon produser tercintanya.
venus berfikir mbak ayu belum kuatir mengenai keadaannya kalau dia menelfon 1 atau 2 jam lagi.
lagi pula dia tidak yakin akan bertemu tara lebih dari 30mnt.
apa menariknya ngobrol dengan seseorang yang terus terusan memanggil mu "IBU"..
aaaarrrgh....

venus melempar seluler ke kasur, lalu masuk ke kamar mandi dengan di temani sisa kantuk mengelayuti mata.
dia memandangi wajahnya lagi di cermin kamar mandi, melamun sejenak di depan wastafel, kemudian mulai menyikat gigi ala kadarnya, mencuci muka, sedikit menyisir serta menguncir ekor kuda rambut sebahunya dan tidak merasa perlu menganti kaos kuning dan clana pendek kostum perjalanan tadi - yang sudah kusut karena di pakai tidur pula - di anggap cukup untuk bertemu pria tua seperti tara.

tapi menyemprotkan minyak wangi sedikit di balik telinga oke juga, pikir venus.
dan venus merasa itu merupakan bonus berlebihan untuk si pria tua.

*****

venus merubah rencana pertemuan mereka, dia memutus kan menunggu tara di pinggir kolam renang hotel saja.
venus merasa tertarik untuk datang ke pinggir kolam renang itu setelah melihatnya tanpa sengaja di brosur hotel ketika dia berdiri di depan reception barusan.

suasana kolam renang itu sangat menyenangkan menurut venus.
kolam renang berkonsep outdoor terlihat sangat romantis dengan cahaya temaram dari lampu lampu taman di pinggir kolam yang cahayanya di tembakan ke beberapa pohon palem botol dan beberapa jenis rumput rumputan yang menutupi pinggiran akar akar pohon palem.
tanaman tanaman itu di rangkai bersamaan di kotak kotak besar terbuat dari campuran batu dan semen pengganti pot pot bunga.

venus berjalan di antara 2 kolam renang, sebelah kiri nya kolam besar yang venus tebak untuk dewasa dan sebelah kanan nya untuk anak anak.

dia melewati 1 pasangan muda yang sedang bermesraan di salah satu kursi pantai di pinggir kolam - venus sempat melirik sedikit ke arah mereka- ingin tau apa yang mereka lakukan.

venus nyengir diam diam melihat pasangan itu -mereka terpergok berciuman bibir oleh mata nya-, dan terus berjalan menuju bibir kolam yang di konsep tanpa batas.

Di ujung batas itu dia berharap bisa melihat pemandangan indah laut lepas, tapi karna gelap mata nya hanya menangkap bibir pantai yang memang di penuhi oleh cahaya cahya lampu kota dan restoran restoran di pinggir pinggir pantai.

venus juga mencari gunung yang di lihat dari kamar tadi, tapi sepertinya memang sulit untuk menangkap gundukan besarnya atau mungkin kolam renang ini tidak menghadap ke arah yang sama dengan jendela kamarnya..? dan dia jadi ragu dengan arah kolam hotel ini.
aaah.. venus memang kadang payah kalau urusan arah mata angin.

venus mulai menikmati malam pertama di menado dan itu di mulai dari kolam renang cantik ini.

venus mengalihkan pandangan ke arah dia datang tadi.
Dia mencari cari seseorang yang mungkin tara dan menghampirinya di situ, tapi sepertinya belum ada yang merasa kenal dengan venus,
tadi venus sudah menitip pesan pada reception hotel kalau ada yang menanyakan namanya agar mengarahkan ke kolam renang ini.

Venus yakin tidak akan susah mencari dirinya,hanya dia wanita yang membawa bawa kamera PD 170 malam malam di kolam renang hotel seperti ini, dan itu ciri yang pasti sangat mempermudah tara untuk langsung mengenali venus.

Sepertinya duduk di salah satu kursi pantai cukup menyenangkan sambil menunggu tara, dan sesekali mengintip pasangan tadi bermesraan asik juga, pikiran kurang ajar venus memberi ide.
Dan ternyata tidak cuma 1 pasangan tapi ada beberapa yang lain, karena suasana temaram venus baru menyadari itu.
tempat ini asik memang untuk bermesraan bagi yang memiliki pasangan.

Venus mencari cari kursi kosong yang pas untuk duduk dan mengintip para pasangan itu,
dan dia berhasil mendapatkan kursi itu di sudut.
tempat venus duduk -setengah tidur- tidak terlalu gelap jadi masih bisa terlihat siapapun yang mencari dirinya nanti.
dia juga sengaja meletak kan kamera di pangkuan, itu akan jadi penanda utama untuk tara.

tara..?
venus tersadar.
kenapa dia melakukan pertemuan dengan pria tua di tempat seromantis ini..?
aaaarrgh..
tiba tiba dia merasa jengkel dan iri dengan pasangan pasangan di kolam ini, tapi sudah lah pikir nya.
nanti kalau tara datang, dia bisa mengajak pindah ke salah satu tempat di dalam dan berbicara di sana.

Sekarang dia mau menikmati suasana tempat ini saja dan menghibur diri dengan kejailan otak nya atau tidur tiduran santai di kursi pantai kolam ini.
  
*****
Belum lama menurut perasaan venus dia menikmati indahnya suasana kolam renang hotel sambil sesekali mengintip pasangan pasangan di sekelilingnya bermesraan lewat lensa kamera -fasilitas zoom in di kamera membuat venus makin asik mengintip- ketika suara berat pria menyebut namanya dengan penuh pertanyaan dari belakang kepalanya.

 "ibu venus...??"

Venus memiringkan kepala, kaget.
"ehem"
venus berdehem malu.
reflek menutup LCD kameranya,kuatir kepergok mengintip.
"yaa..?"

"perkenal kan saya tara"
seorang pria berpostur sedang menjulur kan tangan kanannya ke arah venus dengan sopan.

venus melongo dengan posisi tubuh masih setengah bersandar pada sandaran kursi dan tangan kiri masih memegang bagian luar LCD kamera, pria di hadapannya tersenyum ke arahnya dengan bingung, tangannya masih terjulur.

spontan venus berdiri dan menyambut tangan itu dengan gugup.
dia langsung mengutuki diri sendiri kenapa dia tidak berusaha mandi ketika malas menderanya,
dan kenapa dia membiarkan rambut hanya di kuncir kuda seperti anak sekolah dasar.
lalu kenapa dia tidak mencoba menggunakan lipstik kering di tas nya -ya walau pun lipstik itu sudah kadaluarsa karena terlalu lama di dalam tempat alat mandi yang biasa dia bawa kemana mana- kan setidaknya dia bisa tampil lebih manis di depan pria tua.. aah tidak, tara sialan bukan pria tua..!!!
dia tampan..!! dia betul TAMPAN...!!!!

switter hitam berlengan panjang dengan kerah tinggi yang lengannya di tarik hingga siku, serta celana jeans biru dongker cocok dengan usia tara.
usia..?? dan venus menyesali otaknya karena dia berfikir si tampan tara adalah pria tua, karena usia tara - venus yakin - hanya berbeda beberapa tahun di atas usia venus.

"yaa.. ehem.. eeng.. saya venus..."
venus menarik cepat tangannya, tak ingin berlama lama bersalaman.
kuatir tara membaca gugup di hatinya, dan venus yakin sekarang wajahnya benar benar terlihat amat tolol..!

selama beberapa detik mereka saling diam sampai tara bertanya,
"tadi saya tunggu dan cari ibu di lobby tapi saya ngga tau ibu yang mana, saya juga sempat telfon ibu tapi ngga ibu angkat"

"telfon...?"
venus meraba kantong celana,
"aah.. maaf.. hp saya ketinggalan di kamar"
venus teringat seluler yang dia lempar di atas kasur tadi dan tidak ingat lagi setelah itu.

"ooo... pantas tidak di angkat, akhir nya tadi saya tanya reception hotel berapa nomer kamar ibu dan meminta untuk membantu saya menelfon ke kamar, dan ternyata mereka mengarah kan saya ke kolam ini."
Tara memandanganya sejenak.

"maaf ya membuat anda bingung"
venus tersenyum, berharap senyum itu cukup mempesona untuk menutupi tampang tololnya.

"aah.. tidak apa apa.."
"eeem... kita mau ngobrol di mana sekarang bu..?"
Tara clingak clinguk mencari tempat untuk mereka duduk.

"kita duduk di... mmm... di mana ya...?"
Venus tersadar kalau mereka masih berdiri dan dia benar benar merasa sangat tidak sopan sekarang.

"di salah satu cafe di dalam mungkin..? sepertinya di sana enak untuk ngobrol dan tidak terlalu banyak angin, di sini pasti angin makin besar kalau makin malam... tapi kalau ibu suka di sini saya tidak keberatan."
Tara tersenyum.

Ya tuhaaaan... senyum nya mempesonaaa sekali..
venus menjerit dalam hati.

"ooh gitu yaa...?"
cuma itu yang ke luar dari mulut venus.

"iyaah... dan kurang baik angin malam buat badan kalau kurang terbiasa.."
"saya kuatir ibu masuk angin."
Tara tersenyum lagi.

ya ampuun....
selain memiliki senyum mempesona dia juga pria yang sangat perhatian padahal kita baru ketemu.
venus berusaha keras agar jeritan di hatinya tidak sampai keluar lewat tenggorokan.

"ooh oke.. kita masuk dan ngobrol di cafe saja."
venus berbicara senormal mungkin.

Tara memberi tanda lewat tangannya dengan sopan, mempersilahkan venus melangkah lebih dulu selayak nya seorang gentelman.


*****

Mereka duduk berhadapan di salah satu sofa berwarna coklat di sudut cafe and lounge hotel.
cafe itu di design dengan interior warna lembut, warna merah marun dan kuning gading menjadi dominasi.
lampu lampu di dalam ruangan juga berwarna kuning lembut dan itu makin memberi kesan tenang. 
di sudut lain cafe itu ada seperangkat alat musik yang sepertinya sedang di siap kan untuk live music.
meja meja kaca bulat dengan penyangga kayu berbentuk seperti buah belimbing panjang dan di kelilingi masing masing 2 sampai 4 sofa di dalam cafe itu tidak terlalu penuh, hanya beberapa orang saja tampak saling mengobrol santai.
mungkin karena bukan malam liburan jadi tidak terlalu banyak orang yang datang untuk menikmati live music di cafe ini, dan tara benar di dalam cafe ini lebih hangat dari pada di kolam renang tadi, suasananya juga lebih romantis.


Sekarang venus benar benar bisa melihat wajah tara jauh lebih jelas daripada tadi.
tara memang tampan, wajahnya bersih dari jengot dan kumis.
kulitnya putih seperti banyak orang orang di kota menado ini.
tara punya dada yang lumayan bidang, dia tidak terlalu kurus tapi cukup berisi.
pakaian yang di kenakan tara sepadan dengan sepatu kets berwarna senada dengan switter, santai tapi juga tidak terlalu berantakan.
venus juga bisa mencium aroma lembut minyak wangi dari badan tara.
venus suka wanginya, aromanya seperti mint yang terasa segar di penciuman venus.

venus melirik cermin besar di dinding sebelah kiri yang merupakan bagian interior ruangan dan sengaja di pasang untuk memberikan kesan luas juga mewah.
venus jijik melihat pantulan cermin itu, perempuan jelek memangku kamera -yang wajah nya mirip dengan nya- melirik balik ke arah venus.
astagaaa... itu gue...? venus syok dalam hati melihat diri sendiri di situ, brantakan seperti anak tak terurus.
tuhaaan.. semoga minyak wangi di balik telinga yang harusnya bonus tadi bisa ada manfaatnya.
venus meratap. 

venus melihat pantulan tara di cermin yang sama, dan venus benar benar merasa menyesal menganggap remeh pertemuan pertama dengan tara.
tadi venus merasa kalau terlalu istimewa untuk tara bertemu dengannya di tempat seromantis kolam renang hotel, padahal di pinggir kaki lima pun masih ke bagusan untuk venus dengan dandanan seperti itu berdampingan dengan tara.
tara begitu menawan, sangat menawan di banding pembantu di hadapannya.

"ibu mau memesan sesuatu..?"
suara tara menyadarkan venus dari cacian di hati.

"mmm.. apa yaa..? saya mau teh hangat aja.."

"ibu sudah makan..? pesan sekalian yaa...?"
tanya tara lagi.

"ngga usah deh.. cukup minum aja."
 -lagi pula tiba tiba saya kenyang liat kamu- venus berucap dalam hati.

Tara tersenyum, lalu memanggil salah satu pelayan cafe yang kebetulan melintas di samping mereka.
Tara memesan susu coklat panas untuk dirinya sendiri dan sepiring kentang goreng yang menurut tara asik untuk teman ngobrol, Tara sempat memaksa venus untuk memesan makanan sekali lagi -sebelum dia mengatakan "nanti kami pesan lagi kalau perlu tambahan" pada si pelayan ketika venus tetap menolak.

"baik ibu venus.. mari kita bicarakan apa yang bisa saya bantu untuk ibu venus selama ibu berada di kota ini...?"
sekali lagi tara tersenyum dengan mempesona.
dan venus meleleh.

'eeeng... sebelum kita ngobrol yaa... boleh ngga saya meminta sesuatu sama kamu...?"
tanya venus sopan.

"meminta sesuatu..?? apa..? silahkan saja kalau saya bisa bantu pasti saya berikan."
Tara penasaran.

"bisa tolong jangan panggil saya IBU..? cukup panggil saya venus, atau ve saja.."
"nama saya Venus Gnadeyn, tanpa embel embel apapun di depan nya."
'bisa...?"
"dan sebaiknya kita tidak terlalu resmi, kan kita bukan tim protokoler ke presidenan"
urai venus polos tanpa ada nada kesal tergambar di suaranya, seperti beberapa saat sebelum mereka bertemu.
Yaaa mana mungkin venus kesal dengan pria tampan macam tara kan..?

"ooo.. hehehehe, baiklaah..."
Tara tertawa, menunjukan gigi gigi putih nya yang tertata rapih.
venus suka.

"sebenar nya saya agak kaget juga waktu liat ibu -eeh.. venus maksud nya- pas di kolam renang tadi."
"saya pikir sebelumnya, venus itu.. eeem.. gimana ya bilang nya...?"
Tara terlihat berfikir.

"perempuan tua jelek maksud nya...?"
venus menyipitkan mata ke arah tara.

"ooo... bukan bukaaan.... maksud saya bukan seperti itu, maksud saya mungkin kamu lebih sedikit berumur dari kamu yang di hadapan saya sekarang.."
"saya ngga sangka, kamu belum cocok di panggil ibu."
Tara menjelaskan dengan cepat, tapi venus mengerti maksud tara,
dan venus merona.

"iyaah.. panggil saya ve saja yaa... semua teman saya panggil saya itu.. "
"dan saya cukup panggil kamu tara boleh..?"
venus menatap lurus ke mata tara.
tapi entah kenapa venus merasa kalau tara tak benar benar mau bertatapan dengan nya.

"iyaah.. boleh.. panggil saja saya tara.."
"karena kamu menyebut nama lengkap kamu tadi, saya juga sebut kan juga nama lengkap saya.."
"saya Lentera dwipa tapi saya biasa di panggil tara."
tara tersenyum lebar.

suasana sudah lebih cair dirasakan venus, dia senang tara menyebut nama lengkapnya dan tersenyum lebar.
venus tau, tara lumayan menyenangkan untuk seseorang yang baru di kenal.
beberapa saat kemudian teh dan susu coklat yang mereka pesan datang, menambah tenang perasaan venus, ketika teh hangat itu mengalir di antara saluran pencernaannya.
venus melupakan penampilan babunya sejenak dan mulai banyak memperhatikan tingkah tara,yang venus nilai sangat tenang

"tara, rencana ku besok aku mau langsung liputan ke rumah tahanan di mana lucky prasetya di tahan sementara."
"kamu tau alamat itu dimana..?"
venus mulai berbicara serius tentang niat kedatangannya.

"ooh yaa.. saya tau.."
"tempat nya tidak jauh kok, tidak sampai 30 menit dari sini"
"kebetulan saya juga mau memantau perkembangan kasus itu, dan lagi saya berencana mewawancarai kalapas tempat lucky di tahan, karena menurut kabar lucky ini sempat sakit di tahanan ketika awal awal di tahan kemarin tapi menurut pengacaranya dia tidak di izin kan berobat oleh pihak kalapas"
urai tara.

"oiya..? masa...? kenapa tidak di beri izin..?"
naluri reporter venus tergelitik

"naah.. itu yang mau saya cari tau.. makanya saya juga mau mewawancarai kalapas"
"benar tidak di beri izin atau memang ada hal lain yang kita belum tau."
tara menjelaskan

"waaah... menarik.."
"kamu jam brapa mau kesana tara..?"
venus berharap tara mau memberi tumpangan tapi agak bingung bagaimana menyampaikan keinginan itu agar terlihat tidak terlalu merepotkan.

"kamu mau jam brapa..? saya bisa jemput kamu, nanti kita sama sama kesana."
tara menawarkan diri yang langsung di sambut tepuk tangan di hati venus.

"pagi boleh..? jam 8 atau 9 mungkin..? biasanya kalapas sudah ada pagi pagi.."
"dan lagi kalau pagi belum banyak tamu juga yang bertamu ke kalapaskan...? kita jadi banyak waktu buat bisa ketemu sama dia"
usul venus, tara manggut mangut tanda setuju.

"selain itu aku juga bisa minta izin mewawancarai lucky sama kalapas..? kali aja bisa wawancara artis itu tanpa izin resmi.. hihihihi"
kikik venus.
Tara nyengir.

"rencana kamu brapa hari di sini ve..?"

ve..? aah...
akhir nya tara menyebut namanya tanpa canggung, dan venus senang dalam hati.

"belum tau juga.. mungkin 2-3 hari cukup laah.."
"semakin cepat mendapat kan narasumber penting, semakin baik untuk aku pulang"

"oooh.. gitu.."
"aku harap kamu betah di sini, nanti kalau ada lebih waktu aku bisa ajak kamu jalan jalan di beberapa tempat indah disini."
"bagus bagus loh tempatnya.."
tara menawarkan dengan tulus.

"iyaaaah... mauuuu... aku mau jalan jalan.. pasti asik yaa...?"
"pengen ke bunaken aku.. kira kira sempet ngga yaa..?"
venus menyambut tawaran tara dengan bergairah.

"kita liat nanti.. semoga ada waktu yaa...?"
tara sumringah melihat reaksi venus, dan entah kenapa tara menikmati reaksi wajah venus itu dengan rasa berbeda.

mereka berbicara banyak selama 2 jam berikut nya tanpa menyinggung sekalipun masalah misi venus datang ke menado.
mereka sibuk mengomentari tentang banyak hal, tentang rasa susu coklat tara yang terlalu manis di lidah nya, -yang venus yakini itu akibat tara memandangi wajahnya ketika minum susu itu, dan tara pura pura muntah mendengarnya- tentang suasana di ruangan tempat cafe itu dan banyak hal lain yang sepertinya menjadi sangat penting bagi mereka.
mereka baru terdiam ketika live music -yang ternyata menyuguhkan music jazz- mengalun lembut dari sudut ruangan cafe.
mereka hanya saling lirik setelah itu, yang venus susah untuk mengartikan apa maksud lirikan tara.

Bersamaan dengan mengalunnya mediterranean nights milik Denoit and Freeman project terdengar, venus melihat tara memandang jam tangan.
venus tau itu tanda bagi tara untuk pamit.

"kamu udah mau pulang..?"
venus berbicara agak keras untuk mengimbangi suara music.
tara menganguk pelan dan tangannya melambai pada pelayan cafe memberi tanda untuk meminta bill pembayaran.

venus menyentuh tangan tara.
"biar aku aja yang bayar.. kan aku yang minta tolong sama kamu."

"ngga papa... saya aja yang traktir.. kamu kan tamu.'
tara memaksa.
venus tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
lalu mereka melangkah keluar beriringan setelah tara membayar tagihan mereka.


"kamu ngga mau mampir ke kamar aku..?"
tanya venus dengan wajah datar,ketika mereka di depan loby

"besok saja saya mampir, sebaik nya kamu istirahat.. supaya besok bisa bangun lebih segar.."
"kamu pasti cape kan..?"
tara tersenyum tulus, dan venus merasa seperti perempuan binal menawarkan kamar.

'ooh baiklaah..."
"terima kasih mau datang dan nemenin aku yaa..?"
"kamu menyenangkan."
venus terkejut sendiri dengan kata terakhir yang di ucapkannya dan dia sangat berharap wajahnya tetap dalam kondisi datar.

Tara tersenyum dan venus merasa yakin tara menyembunyikan ronanya.
"baiklah venus.. sampai besok... senang juga sudah berkenalan sama kamu."

Venus kikuk, apakah dia harus menjabat tangan tara dan mencium pipi kiri kanan tara seperti yang biasa di lakukan di jakarta ketika berpamitan dengan teman teman nya atau cukup melambai saja...?
venus diam beberapa saat dan akhirnya dia hanya mengucapkan bye dan tersenyum kecil untuk tara.


Tara membalas senyum venus, membalik tubuh dan berjalan pelan ke arah parkiran mobil.
venus masih memandangi punggung tara dan entah kenapa tara membalik kembali kepalanya ke belakang lalu tersenyum kembali pada venus.
venus nyengir lalu melambaikan tangan ke arah tara.

*****

Venus langsung menelfon mbak ayu begitu sampai di kamar - venus melihat ada 15 panggilan tak terjawab, 5 di antara nya dari mbak ayu- dia mengabarkan keadaannya yang baik baik saja di menado dan venus berjanji akan liputan dengan baik selama di kota itu, selebihnya dia hanya mengoceh tentang tara tanpa henti begitu mbak ayu menanyakan apakah tara mau membantunya.
dia terus bicara tentang tara walaupun mbak ayu tidak merasa perlu detail sosok tara dan mbak ayu tidak berusaha menyela cerita itu, karena mbak ayu tau venus akan memaksa terus mendengarkan.
venus baru selesai berceloteh ketika mbak ayu bilang dia harus membuat rundown tayangan dan berjanji akan mendengar ceritanya lagi besok setelah venus selesai liputan lucky prasetya.

Pakaian wajib tidur-celana pendek putih dan kaos oblong- sudah dia kenakan. 
Venus menepuk nepuk bantal sebelum meletakan kepala di situ.
dia bersiap untuk tidur dan bantal ini cukup nyaman di kepala nya.

venus mengingat senyum tara di cafe tadi dan entah kenapa ada debar lembut di hatinya secara tiba tiba.
venus berharap tara tidak menilai "perempuan dekil" karena penampilannya malam ini.

venus memandang layar ponsel.
dia menimbang untuk menelfon tara.
tapi mau bicara apa..? kan tadi sudah lebih 3 jam ngobrol... venus bingung.
entah mengapa venus ingin tara mengingatnya malam ini.
tapi untuk apa juga..?
"bodo aah.. pokoknya dia harus inget gue malem ini...!"
venus bertekad.

venus memutuskan untuk mengirimi tara sms.
venus yakin, kalau dia membalas sms itu berarti tara memiliki kesan lebih padanya.
tapi kalau dia tidak membalas sms nya, itu karena.. mmm... mungkin karena pulsa tara habis...!!!
Venus nyengir sendiri dengan kekonyolannya.

#terima kasih sudah menemani aku malam ini yaaa, maaf merepotkan (venus)#

mengucapkan terima kasih hal yang wajar kan..? ngga keganjenan kan..?
venus berargumen sendiri dengan hatinya ketika sms itu terkirim.

venus menunggu beberapa saat, tapi tidak ada balasan.
perasaan kecewa merasuki hatinya.
ternyata tak seperti venus,tara biasa saja dengan pertemuan mereka malam ini.
buktinya tak ada balasan sms dari tara.

baru saja venus akan memejamkan mata, seluler itu bergetar pelan di tangannya.
#ya sama sama.. tidak merepotkan.. saya senang bisa membantu dan ngobrol sama kamu#

venus langsung berjingkrak jingkrak di atas kasur dan tertawa lebar sangking senangnya.
Venus mulai gugup,tapi dia memutus kan untuk mengirim satu sms lagi ke tara.
#sekali lagi terima kasih ya.. sampai besok#

2 detik kemudian,
#iya sampai besok, selamat tidur buat kamu#

Venus tertawa lebar lagi.
dia benar benar senang malam ini, walaupun dia sebenarnya merasa aneh kenapa dia terlalu bahagia hanya karena sms.

Venus tidur dengan senyum masih tersisa di sudut bibir tipisnya.
senyum yang terbawa sampai ke dalam mimpi.

*****

2 komentar:

  1. welll, sepertinya gue pernah membaca ataupun mendengar kisah ini, jadi mungkin gue sudah menebak ending cerita ini , jika nantinya venus tertarik dengan tara yang "ternyata" tampan. ini terlalu elo banget da... saran gue gunakan imajinasi lo yang lain, karena disaat penulis menceritakan mengenai pengalamannya, kemungkinan( bisa jadi enggak juga) akan mengalami kebuntuan dalam mengembangkan cerita novel-novel berikutnya... gue sebenernya juga menanti kelanjutan bab II gerhana untuk venus ini, cuma sori ya gue agak sedikit kecewa dengan yg gue baca saat ini. tapi gue tetep acungi jempol untuk elo da heheheh, karena udah buat novel ini



    dari pecinta novel drama dan metropop maniac
    with love

    EMINENSI

    BalasHapus
  2. Lagi-lagi saat penulisan diawal-awal cerita, selalu saja mengulangi kata "nya"....malas kali aku membacanya....hmmmm....
    Tapi dipertengahan, mulai asyik....

    Dari novel pertama dan kedua ini, saya menjadi tau, bahwa Venus berkarakter perempuan terburu-buru, nggak sabaran, en satu lagi...pemarah....*hahahaha*..... tapi venus dalam cerita, berperawakan manis kok....ini soal karakter cerita kawang...dibawa santai..

    Penulis novel hanya menggambarkan dirinya dan tidak mengembangkan karakter lain....so, nilai yang dapat dipetik oleh pembaca sampe skrg, belom ada sih....*pertanyaan : apa manfaat untuk pembaca dari novel pertama "Gerhana untuk Venus 1" dan novel kedua "Gerhana untuk Venus 2? belom jelas....*

    BalasHapus

It"s Me

It"s Me
Beautiful mind