Kali ini rasanya aku tidak punya alasan untuk menyalahkan waktu. Waktu
yang telah membawaku datang begitu terlambat. Meskipun aku sudah
bergegas, namun ternyata kereta tujuanmu berangkat lebih cepat tanpa
pemberitahuan. Maka aku pun harus tetap menuju. Mau tidak mau, dan
harus tanpa kamu. Dan ketika aku telah berada dalam kereta lain,
kemudian kita berpapasan di jalur yang beriringan tapi tidak
bersinggungan denganmu, apa yang kau rasakan?
Kau akan mencaci waktu? Menangisinya, memohon-mohon supaya dia kembali?
Tidak. Kau dan aku tidak akan melakukannya. Tidak berguna menyalahkan
waktu dan satuannya yang bernama cepat dan lambat. Dan seperti sepakat,
maka akan kita rayakan siang dan malam yang seolah datang merambat.
Lalu kita akan saling memandangi. Dari dua gerbong yang terpisah.
Sambil membentuk serangkaian kata di udara, berharap semoga aku dan
kamu bisa saling membaca. Atau mungkin meniup kaca jendela,
mengembusakan nafas di atasnya, kemudian meninggalkan sedikit jejak di
sana, yang mungkin tidak kentara, namun tetap ada, karena kita berdua
berdoa semoga debu tetap menebalkannya.
Dan kita akan tersenyum pada saat bersamaan dan saling memandang. Tentu saja masih dengan udara
sebagai perantara. Aku ingin mengucapkan sesuatu. Dan demikian pula
kamu. Tapi tetap saja, bukankah kita tidak pernah bisa menandingi
kecepatan waktu?
Keretamu segera berangkat.
Pada jalur yang bersisian namun tidak pernah saling bersinggungan.
Kemudian pada perantara udara yang semakin meperlebar arah, aku dengar suaramu.
Karena kamu adalah dia yang mengapa datang terlambat?

Nice Poem There... to sad to be true..:)
BalasHapus