Brengseeeek...!!!"
venus mengumpat dengan kesal ketika kabel telfon tertarik tanpa sengaja oleh tangan nya sendiri,
mbak ayu produser program sekaligus atasan venus, yang duduk persis di hadapannya melirik sekilas dan kembali melihat ke kertas-kertas yang entah apa di tangannya.
aku harus apaaa...???
truss, kenapa harus sendirian sich aku liputannya....??
memang ngga ada kameraman yang bisa nemenin aku kesana..???
ini liputan kasus lagi, bukan liputan liburan artis...!!!
bibir tipis venus terus mengomel, dan dia tak berhenti bolak balik di depan meja produser itu yang sama sekali tidak terganggu dengan tingkah venus.
mbaaaaak ayuuuuu......
venus menggeram.
"ve.. masalah nya dana yang di berikan kantor untuk liputan kasus ini tidak besar..!"
-akhir nya mbak ayu bereaksi-
-sambil mengatur posisi duduk agar cahaya matahari sore, yang menembus kaca tebal kantor tidak langsung membias ke wajahnya, dia menatap mata venus.
"karena sekarang musim liburan, harga tiket pesawat dan akomodasi sangat mahal, dan tidak cukup untuk membiayai dua orang..!
kebijakan kantor hanya akan mengirim satu reporter yang bisa VJ...
alasan itu laah kenapa kita hanya kirim kamu ke sana...!
kecuali...
-mbak ayu menatap nakal ke arah ve,
sambil membetulkan letak kerudung pink nya-
kecuali apa...?
kecuali kalau kamu tidak sanggup untuk pergi sendiri,
maka kantor akan melakukan kebijakan lain.
kebijakan apa...??
yaaah.. kalau kamu ngga sanggup kantor akan mengirim ferdy untuk gantiin kamu liputan itu...!!
-mbak ayu menyipit khan mata dan menekan khan suara nya lebih dalam ketika nama ferdy dia sebut.
"aaaargh...
aku brangkaaat...!!!"
teriaaak ve dengan keraas,
-ani sekertaris redaksi yang sedang menulis note tak jauh dari meja mereka, tanpa sengaja mematahkan ujung pensil karna kaget .
ve terlihat emosi.
kening wajah nya berkerut sangat dalam.
dia berdiri mendadak,berjalan cepat ke arah komputer redaksi..
dan mulai berkutat di layar PC.
mbak ayu tersenyum jail melihat tingkah venus,
bertahun tahun dia menjadi repoter andalan,
dan terlalu sering melihat kekurangan dan kelebihannya,
serta emosi yang tidak terkontrol dari venus sudah menjadi adegan biasa bagi produser satu ini.
"kenapa venus mbak..?
teriak teriak kaya gitu...?"
arya reporter satu tim venus yang berwajah tenang, menunjukan raut ingin tau.
melangkah ke ruangan redaksi mereka yang dingin karna ac, dan langsung menempatkan tubuh nya yang berisi ke kursi samping meja mbak ayu yang berdampingan dengan tembok kaca lantai 2 gedung kantor mereka yang mewah.
"venus harus berangkat liputan ke sulawesi besok pagi tanpa kameraman..."
jawab mbak ayu masih sibuk dengan kertas kertas dan sesekali menaikan lengan baju kurung putih yang dia kenakan dan terlihat agak kebesaran.
oooo...
jadi dia emosi karena harus liputan sendiri...?
"dia memang kesal karna di suruh jalan liputan sendiri,
tapi yang bikin dia teriak tadi karna aku bilang,
kalau dia ngga mau jalan liputan sendiri, maka kantor akan meminta ferdy untuk pergi liputan kesana...
hahahahahahhaah...
-mbak ayu dan arya tertawa bersamaan-
"venus bener bener ngga bisa di panasin dikit ya mbak..!
pasti langsung ngamuk..
hihihihiih....
apalagi kalau di bandingin bandingin sama si bapuk ferdy, pasti langsung serem mukanya...!
-arya memperhatikan tingkah venus yang menatap layar komputer sambil menggigiti kuku jari kelingking.
"tapi si ferdy jadi senjata ampuh buat aku kalau dia rewel dan banyak ngerengek karna ngga setuju dengan tugas liputan yang aku mau, begitu aku bandingin dengan repoter yang dia benci itu pasti langsung dia kerjakan tanpa mikir.
hehehehe..."
senyum kemenangan wanita berpenampilan sederhana ini,
menghias sempurna di bibirnya.
"tapi kasihan juga mbak kalau dia jalan sendirian ke kota itu tanpa ada kameraman dan tanpa ada yang dia kenal di sana,..!
apa ngga terlalu berat buat dia mbak...?"
kembali arya memperhatikan tingkah venus.
"aku tau arya, aku tau tugas ini berat buat dia...
tapi masalah nya aku ngga tau lagi harus menugas khan pada siapa..
di tim kita hanya dia dan kamu reporter yang bisa mengoprasikan kamera,
kalau dia tidak bisa brangkat maka tugas liputan ini akan di berikan pada tim program lain.
dan direksi sudah memutus khan, seandainya venus keberatan akan tugas ini, maka ferdy yang akan di kirim menggantikan nya...!!
dan kamu tau khan konsekwensi nya arya..?
program ferdy lah yang lebih berhak atas hasil liputan itu di banding program tayangan kita...!
kita hanya bisa meminjam berita itu kalau program ferdy sudah tayang lebih dulu...!"
mbak ayu menarik nafas panjang-
"tadi nya aku mau mengajukan nama mu untuk brangkat, tapi kamu harus membantuku melatih beberapa repoter baru agar bisa di andalkan di program kita khan....?
" iya, aku ngerti mbak...."
"sudah tau akan menghubungi siapa disana nanti si bawel itu mbak..?"
arya menatap wajah lembut produser ke ibuan ini dengan penuh pertanyaan.
"ini dari tadi aku berusaha mencari beberapa nomer teman wartawan di sana, aku mau menitipkan venus pada teman yang ada di sana...!!
tapi aku belum bisa juga mendapat khan nomer teman teman lama aku yang tinggal di sulawesi..."
mbak ayu kembali menatap kertas kertas dan membongkar bongkar laci meja kerjan yang penuh dengan tumpukan kertas.
" mbaaaaak ayuuu...."
"coba telfon mas ari..! mas ari minggu lalu baru pulang liputan dari sulawesi...!
aku yakin dia punya kenalan yang bisa membantu aku di sana...!
venus berteriak dari balik punggung nya.
"oiyaaa....!"
mbak ayu tersenyum lebar.
memeriksa phone book nya, dan mulai menghubungi seseorang.
"brapa hari rencana lo mau pergi ve...?"
arya menggeser kursi kerjanya yang berroda ke arah tempat duduk venus,
dan mereka duduk berdampingan.
"ngga jelaas...!!"
"kasusnya aja burem gini..!!"
venus menyandar kan kepala ke pundak teman satu tim sekaligus sahabat nya itu.
"kasus apaan sich ve..?"
"kasus narkobanya si aktor lawas itu yaah...?"
arya memperhatikan layar komputer yang dari tadi di perhatikan venus,
yang sekarang menampil khan seorang aktor pria tampan berbulu tangan lebat.
"iyah... si lucky ini sudah minim prestasi, sekarang malah bikin ulah...!"
venus mengeser geser krusor untuk mencari lebih banyak info tentang perkembangan kasus aktor lucky prasetya dari internet komputernya.
"bener lo mau brangkaat ve...???"
arya mengusap kepala venus dengan lembut.
"iyah.. gue mau brangkaat..!"
"gue ngga rela kalau si bapuk ferdy yang jalan..!!
enak ajaa die...!
gue ngga suka kalau tim nya dia yang maju ke kasus ini..!!"
"harus gue pokok nya yang jalaaan...!!!!"
venus mengangkat kepala, dan memandang arya dengan sorot tidak senang.
"masalah nya ve, lo jalan sendirian..! lo juga belum pernah liputan kesana khan venuusss..!"
"sebenernya gue agak keberatan lo jalan sendirian buat ngerjain kasus ini"
"yakin lo ngga akan ada masalah..?"
pria berpostur sedang ini memandang venus dengan tulus.
"gue pasti bisa ar...!!"
"gue yakin 100 persen ngga akan ada masalah..!"
"asal gue bisa punya seseorang yang bisa gue hubungin di sana pasti semua baik baik ajaaaa"
venus meyakin kan arya dengan penuh semangat.
"ya udah kalau lo yakin sanggup ngerjain kasus ini,
ya udah lo jalan aja..!
arya mengangkat bahu yang tidak terlalu bidang dengan pasrah.
"yang penting buat gue sich lo bisa pulang dengan selamat."
"itu lebih penting buat kita semua disini.'
"aah... sweeeeet bangeet siich lo botak...!! "
venus memeluk arya dengan manja.
"ya iya laaah penting buat lo harus pulaang...!
lo khan bawa kamera seharga 40 jutaa dan berita dari kasus besaar...!!!
makanya lo harus pulaaang...!!'
hahahhhahhaha...
arya refleks berdiri dan berlari cepat ke luar ruangan bersekat papan warna warni cerah,
ketika tangan venus menarik sebuah logbook liputan di samping PC komputer dan bersiap melemparkannya ke arah tubuh arya yang sudah terlanjur menghilang.
"ve,.. coba kamu kesini sebentar..!"
mbak ayu memanggil venus dengan suara berlahan, tapi cukup bisa di dengar venus yang masih menahan kesal.
"ya mbaak..."
venus mendekati meja produsernya dengan menggeser kursi beroda yang dia duduki seperti tingkah arya tadi.
"ini mas ari merekomendasikan satu orang sahabatnya di tempat liputan kamu nanti, yang sepertinya bisa kamu hubungi."
mbak ayu menyerahkan selembar kertas pos-it bertulis khan satu nama dan deretan nomer yang di tebak venus nomer ponsel dari seseorang yang namanya di tulis di lembaran kecil itu.
"tapi untuk lebih aman, sebaiknya kamu menelfon mas ari dulu lagi dech sebelum menghubungi orang ini, supaya mempermudah kamu berbicara dengan dia ketika kamu menghubunginya sebelum meminta bantuan"
"oo.. mbak ayu belum menghubungi orang ini...?"
-venus mandang kertas kecil itu dan memindahkan deretan nomer itu ke ponsel milik nya-
"belum laah... kamu aja yang hubungi supaya kamu bisa berkenalan, khan kamu yang akan berangkat dan meminta bantuannya nanti."
"tapi sebelum kamu telfon teman mas ari itu, kamu telfon mas ari dulu loh ya...?"
"oke... aku telfon mas ari dulu."
mbak ayu memandang venus yang menggeser dan mengangkat gagang telfon di meja kerjanya dengan wajah datar.
*telfon*
"mas ariiiiii...... apa kabaaaar...?? ini venuuus...."
suara centil venus menyapa seseorang di ujung telfon.
"hai venus... ada apa sayaaaang...?"
suara berat seorang pria menjawab dengan ramah sapaan venus.
"mana oleh oleh buat aku dari sulawesii mas...?? masa ngga ada apa apa yang sampai ke meja redaksi aku sama sekali."
"sampai kantong sampah nya aja ngga keliataaan."
venus terkikik,sambil jari jari tangan kanan nya memainkan pos it yang tadi di berikan mbak ayu.
"maaf sayaaang.. mas ngga sempet beli banyak oleh oleh,
redaksi mas aja ngga kebagian semua."
suara di ujung telfon itu tertawa dengan intonasi berat.
"ya udah dech ngga papa... tapi di tuker sama traktiran yaaah... khan aku ngga kebagian oleh oleh...!
venus terkikik manja.
"kamu di mana sich mas..?"
"kalau kamu di kantor, aku samperin aja kamu ke redaksi kamu sekarang...!"
venus berdiri, kepala nya clingak clinguk di antara sekat antar redaksi yang memang tingginya hanya sampai dada venus.
"ya sayaaang... nanti kamu aku traktir.."
hehehehe...
"aku di luar kantor, aku lagi persiapan liputan budaya betawi di srengseng sawah"
"oiyaa.. katanya kamu mau liputan ke sulawesi utara yaa..?"
'kapan mau brangkat...?'
"iya.... "
"makanya aku telfon kamu, kata mbak ayu aku harus telfon kamu dulu untuk tanya tanya soal temen kamu yang kata mbak ayu bisa bantu aku di sana."
venus melirik mbak ayu yang ternyata masih duduk di depan nya dan terus memandang wajah venus tanpa bergeming.
"iya sayang... tadi aku udah bicara sama bos mu yang lembut itu,
kalau aku punya satu sahabat baik disana yang bisa bantu kamu..."
"dan aku yakin sahabat ku itu, pasti ngga akan keberatan buat bantu kamu selama kamu di sana..."
"nomer nya udah aku kasih juga sama mbak ayu mu itu.."
"udah dia kasihkan ke kamu belum...?"
suara di ujung telfon itu berhenti sejenak.
"udah kok mas... tadi mbak ayu udah kasih ke aku.."
"dia temen kamu dimana sich mas...?"
"apa ngga ngerepotin aku minta tolong sama dia...?"
kali ini kertas pos it sudah menjadi gulungan bola kecil di jarinya dan sepertinya venus berfikir untuk menggit gigiti bola kertas kecil itu.
"ngga papa kok... dia menyenangkan.. dia sahabat aku sejak lama..."
"kamu ngga akan kesulitan berhubungan dengan tara"
"tara anak yang baik.. dia pasti ngga keberatan ngebantuin kamu di sana.."
suara di ujung telfon kembali terdiam.
"dia wartawan juga mas...?"
dan bola kertas kecil itu sudah ada di antara gigi venus.
"dia sebenarnya bekerja di salah satu LSM di satu kota kabupaten di minahasa utara"
"tapi dia juga salah satu wartawan koran lokal di menado."
"aku kenal pertama kali ketika liputan budaya minahasa di salah satu kabupaten di sulut tempat dia di tempat khan oleh LSM nya"
"tapi sekarang dia tinggal di menado, kok.. dan kebetulan juga dia sedang cuti dari LSM untuk fokus ke koran lokal tempat dia bekerja, selain di LSM itu"
"aku yakin dia dengan mudah bisa bantuin kamu di sana selama kamu liputan."
"oke dech mas ari, kalau menurut mas ari dia bisa bantu aku selama di sana aku mau telfon dia sekarang."
"terima kasih ya mas ari ku sayaaang...."
"sampai nanti..."
"oke venus... sampai nanti yaa... "
'hati hati di sana.. jangan sembarangan di daerah asing..."
"siap bos...!!"
venus nyengir
"sampai nanti yaa... anak manis... bye"
venus menutup telfon,
kertas bola kecil itu sekarang sudah benar benar basaah karena air liur,
dan venus melempar nya ke tempat sampah yang letak nya tak jauh dari kaki kiri nya.
mbak ayu memandang jijik melihat tingkah venus.
venus nyengir lebar.
mempertontonkan gigi yang tertata sempurna ke wajah mbak ayu yang tangan kanan nya menyerahkan tisyu untuk tangan venus yang terkena tetesan air liur dari bola kertas kecil tadi.
"sekarang aku telfon temen mas ari itu ya mbak...?"
venus mengambil tisyu dari tangan mbak ayu, dan cengiran lebar belum hilang dari wajahnya.
"iya.. telfon sekarang, supaya aku tenang untuk mengirim kamu besok kesana...!"
"aku juga mau mendengar tanggapannya tentang kedatangan kamu ke sana besok...!"
mbak ayu hanya geleng geleng kepala melihat tingkah venus yang kekanak kanakan dan menjijikan barusan.
venus membuka phone book.
memilih satu nama yang tadi dia salin dari pos it yang sudah di buat menjijikan oleh nya dan sekarang tinggal di tempat sampah ruangan redaksi.
*telefon*
"halo...??"
suara seorang pria terdengar sopan dari ujung telfon.
"halo... selamat sore.."
venus bicara dengan hati hati.
"maaf di sini sudah malam... jadi selamat malam.."
suara di sana terdengar menahan tawa.
venus memukul keningnya.
ck.. benar di sana lebih cepat 1 jam dari jakarta.
venus melirik jam tangan, di tangan kirinya yang menunjukan 5.30 sore.
"maaf maksud aku selamat malam..."
"benar ini nomer telfon mas tara...?"
"ya benar bu... ini dari mana ya..?"
tanya suara itu dengan tetap sopan.
kening venus berkerut.
aaah.. kok ibu yaa...? jangan jangan bapak bapak nich si tara..
wajah venus terlihat tidak nyaman dengan panggilan itu.
"ooh,.. saya venus pak..?"
venus sengaja merubah panggilan sopan pada si penerima telfon,
bukan untuk sopan tapi dia ingin membalas ketidak nyamanannya karna dirinya di panggil dengan "BU" oleh orang yang baru 5 detik suaranya dia kenal tapi sudah membuatnya kesal..
"saya teman mas ari reporter jejak budaya chenel 1 pak.."
venus diam sejenak menunggu reaksi si penerima telfon.
"ooh iyaa... tadi mas ari sudah menelfon saya, dia bilang kalau ada teman nya yang akan datang ke sini untuk liputan actor yang terkena kasus narkoba...!"
"ibu yang mau kesini..?"
aaaaah... lagi lagi "ibu"...
venus menahan kesal karna panggilan itu.
"ya pak saya yang akan datang..."
"bisa bantu saya pak..?"
"saya harap, saya tidak merepotkan bapak.."
venus berbasa basi dan terus menjaga intonasi suaranya agar tidak berubah karna menahan kesal.
"ooh.. ngga papa kok..."
"saya akan membantu semampu saya..."
"jadi kapan sampai ke sini..?"
suara di ujung telfon kembali terdiam.
"besok saya naik penerbangan pertama pak dari jakarta..."
"kira kira jam 12 waktu menado sudah sampai pak saya..."
lagi lagi venus diam untuk menunggu reaksi lawan bicaranya.
"ooo.. jadi jam 12 yaaa...?"
"ibu sudah punya nomer saya khan..?"
venus menarik nafas menahan emosi, ketika kata kata "ibu" kembali di ulang.
-Ya iya laaah gue dach punya nomer lo..! makanya sekarang kita lagi ngobrol di telefon...!!!-
ingin sekali kata kata itu di luncurkan dari mulut nya.
tapi venus berujar,
"iyah saya sudah punya nomer bapak..."
"boleh saya telfon bapak begitu tiba di bandara sam ratulangi...?"
"ini pertama kali saya ke sulawesi pak...! sejujur nya saya tidak ada yang jemput"
"bapak keberatan tidak bantu masalah penjemputan..?"
"selain itu saya juga belum tau akan menginap di hotel mana pak"
"bapak bisa bantu juga..?"
urai venus polos, sambil berharap pria di ujung sana tidak merasakan ketidaksukaan nya dan memohon dia mau berbaik hati menjemput dan mengurus tempat tinggal nya di sana.
"baiklah bu venus.. saya akan jemput ibu di bandara dan kalau pun saya ada kesibukan lain saya akan minta orang untuk menjemput ibu venus"
"kalau masalah tempat tinggal, kita bisa bicarakan kalau ibu sudah tiba"
"bagaimana...?"
venus kembali menarik nafas dalam, tapi kali ini tarikan nafas lega karna pria yang sangat resmi ini ternyata mau berbaik hati mengurus masalah penjemputan nya.
baiklaah, se engga ngga nya orang menyebal kan ini mau bersusah susah buat gue.
venus berujar dalam hati.
"baiklaaah pak... terima kasih bantuannya..."
"saya akan langsung menelfon bapak begitu saya tiba di sam ratulangi"
"terima kasih pak sekali lagi atas bantuannya"
venus ingin cepat cepat mengahiri percakapan mereka,
karna kalau terlalu lama, venus kuatir pria ini mengendus ke jengkelannya kemudian dia akan berubah fikiran untuk membantu.
celaka untuk venus nanti.
"baiklaah bu venus... sampai besok di sulawesi.."
"iyaah pak... sampai besok..."
"terima kasih sebelum nya sudah merepot khan..."
'selamat malam.'
"selamat malam bu..."
venus menutup telfonnya dengan cemberut.
'kamu kenapa ve...? kok mukanya gitu...?'
"gimana tara...? dia sudah oke khan bantu kamu...??"
venus tersentak, baru sadar kalau dari tadi mbak ayu memperhatikan dari tempat nya duduk.
"aku sebel mbak dia panggil aku ibu...!!"
"aku khan bukan ibu ibu,...!!"
"nyebelin bangeet sich tuch orang...!!"
"sembarangan aja manggil aku ibu...!!"
venus menjawab dengan jutek pertanyaan produser kesayangannya itu.
"hahaahahahah...."
'khan dia belum tau kamu venus...'
"jadi mungkin itu emang sikap sopannya ajaa.."
"dari pada kamu di panggil pak...!"
'khan lebih paraah...'
"hahaahahah...."
mbak ayu tergelak mendengar penjelasan venus.
"aaaah... aku curiga, jangan jangan dia bapak bapak beneran...!!"
venus bersungut
"hahahahahah..."
mbak ayu tertawa tanpa perduli sungutan venus.
"tapi gimana ve...??"
"aman khan..??"
"dia ngga keberatan khan bantu kamu selama di sana..?"
mbak ayu menatap venus ingin tau.
"iyaah amaan..."
"dia ngga keberatan bantu aku.."
venus mengusap ngusap wajah dengan tangan kirinya.
"semoga perjalan liputan ku ngga apes ya mbak..??"
"loh kenapa...? kenapa kamu pesimis gitu...??"
mbak ayu menatap venus dengan heran.
tumben venus terlihat kurang bersemangat liputan luar kota.
'apa karna kamu sendirian..? jadi pesimis gitu...?'
'bukan cuma itu mbak...!!'
"truss apalagi...?? "
" kebayang ngga sich mbak...??'
"aku khan sendirian yaaah kesananya... truss liputan juga liputan kasus yaah...!! ngga ada orang pula yang aku kenal di sana...!!
"harapan ku cuma sama temen mas ari ini...!!"
" nach.. kalau seandainya teman mas ari itu beneran bapak bapak gimana...??
"khan bisa bosen sumpah hidup aku disana...!!"
venus mendesis jengkel
"haa..?? maksud nya...??"
tatap mbak ayu tak paham maksud venus.
'maksud ku, gini mbak...!! khan banyak bangeet nich hal yang ngga ngenakin dari perjalanan ku ini yaah...!?"
"pertama : aku brangkat sendirian,"
"ke dua : aku belum pernah ke sulawesi, "
"dan ke tiga, aku akan bergantung hidup sama seseorang yang aku baru kenal 10 menit percakapan telfon, dan sudah sukses buat aku JENGKEL...!
"setidak nya ada hal baik laah menghampiri ku dari liputan kali ini...!!'
sambil terus di iringi wajah bingung mbak ayu, venus berujar,
"sangat berharap aku ngga di temani sama seseorang yang sudah beruban selama di sanaaa...!!"
"minimal cowo ganteeng atau anak muda laah seusia aku gituu loooh mbak ayu ku sayaaaang...."
"malees bangeet di temenin om om...!!!"
sungut venus yang di sambut ledakan tawa mbak ayu..
"hahahahahaahah...."
"ya ampun tak kiro opo...!!"
mbak ayu mengusap kepala venus.
"udah pulang sana...!! siap siap buat besok...!! jangan sampai kesiangan...!"
"kalau sampai telat naik pesawat kamu harus ganti pake uang mu sendiri"
"hati hati yaa..."
"loh...? aku ngga jadi di suruh liputan ke acara pembukaan galeri lukisan di kemang itu mbak...?"
"khan artis undangan nya banyak mbak...?"
tatap venus heran
"ngga usah... aku minta sita untuk liputan kesana."
"kamu fokus buat keberangkatan besok aja.."
venus berdiri dengan sumringah.
dia peluk wanita jawa di depan nya dengan penuh sayang.
"aku pulang ya mbak.."
"besok aku brangkat...!!"
mbak ayu mengusap punggung venus dengan lembut dan kembali mengusap pipi venus dengan sayang,
ketika gadis ramping itu melepas pelukan.
"trus tiket sama uang saku mana mbak...?"
"minta sama ani, dia udah siapin semuanya."
venus memasukan barang barang kedalam tas ransel berwarna hitam pudar,yang terlihat sangat jumbo di banding tubuh mungil nya.
lalu melangkah ke arah sekertaris redaksi dengan langkah santai.
"dadah mbak ayu... sampai aku pulang ke jakarta lagi...!!"
jangan lupa nelfon selama aku di sana ya mbak..??!!"
venus melambai sambil tetap melangkah memblakangi mbak ayu.
"yaa... besok aku telfon kamu sehari tiga kali...!!"
"heheheheh..."
mbak ayu menatap punggung venus reporter kesayangannya -
yang sedang meminta tiket dan uang saku nya pada sekertaris redaksi- dengan lega.
"Tara"
venus mendesis khan nama itu tanpa sadar ketika dia menuju lift kantor untuk pulang.
hahhahahahah lucu , asyikk dan cerita yg sangat penuh penasaran ,,, lanjuutannya cepat yaaa,,, gantung ni baca hnya 1 bab saja .bdw bab 1 nya kok hanya membahas alibi venus dalam satu tempat saja *kantor * ,,,, berarti novelkamu ini akan tamat sampe 100 bab nya ,,,waoooo hehehe
BalasHapusJujur wil, materinya sangat menarik. Tapi saya juga hrs jujur kalo saya nggak punya pengalaman nulis novel. kalo sekedar belajar dikit2 soal gaya nulis novel, iya pernah sih tapi nggak serius.
BalasHapusbetul yg erik bilang, bab 1 kok lokasinya melulu di kantor? kesannya kurang dinamis, lagian pindah lokasi kan si Venus nggak perlu bayar...hehehehe... Selain itu, meski kamu mencoba menulis dgn gaya percakapan sehari-hari anak muda sekarang, tapi kok terlalu runut alias kronologis banget. misalnya gini, habis si venus kesal krn disuruh tugas sendirian ke sulawesi, dia minta bantuan sama mbak ayu (terjadi percakapan). mbak ayu lalu menelpon Ari. lalu ayu menyuruh venus menelpon ari. venus lalu menelpon ari (percakapan). Ari lalu menyebut nama tokoh Tara. terus Venus menelpon Tara (percakapan lagi)..bla..bla...closing
Saya juga tertarik pada tokoh Venus (kayaknya kamu banget Wil). Dari judul sdh jelas novel ini akan mengeksploitasi habis tokoh Venus. Hanya saja, yg saya kurang mengerti kok baru bab 1 tapi kamu sdh nyaris habis2an mengupas tokoh Venus ini. apa tdk lebih baik mencicilnya supaya pembaca penasaran dan bertanya2 siapa sih si Venus ini, kok kenes banget orangnya...bla..bla...
kenapa hrs dicicil? targetnya adalah pembaca makin penasaran dan tertarik untuk membuka dan membaca bab berikutnya dari novel kamu. Semisal kayak berita koran. Orang tertarik membaca sampai tuntas berita kompas, tempo, media indonesia atau JP krn judul dan leadnya yg bikin penasaran. bandingkan dgn koran Lampu Merah atau Pos Kota yg cukup baca judulnya org sdh tau isi dan tak merasa perlu membacanya hingga tuntas..
segitu dulu deh, maaf kalo saya keliru. saya hanya ingin ngajak tukar pikiran seperti permintaan kamu. kita sama2 belajar. saya bukan ahlinya wil. saya belum pernah nulis novel hanya pernah beberapa kali baca novel...hehehehe
keren wil. mengalir, lincah, penggambaran suasananya bikin orang berimajinasi. tp msh ada beberapa kata yg ngga sesuai sama eyd. jiaaahhh. hahaha. . maksudnya meski gaya penulisannya nge-pop, tp kan tetep mengindahkan penulisan kata-kata yg baik dan benar :p
BalasHapuscontoh:
"terima kasih sebelum nya sudah merepot khan..."
merepot khan -> seharusnya merepotkan.
simpel khaaannn??? (yg ini "khan" nya suka2 gue, krn gue nulisnya ngga di novel. weee :p)
:)
BalasHapussebuah rutinitas kejadian yg sering aku liat ini..hhehehehehehehhhh
gaya bahasanya enak,mudah dicerna..gk terlalu baku.
setuju sama oepay,penulisan kata "khan" sedikit mengganggu..yg seharusnya lebih enak "kan" IMHO yah :D
overall aku suka bab I ini...keep posting yah!!
-aga-
Wilda,
BalasHapusSuatu cerita, apalagi novel, diukur antara lain oleh (1) bobot materi kisah, (2) alur cerita, (3) cara penuturan dan (4) keterampilan berbahasa yang mencakup kosakata maupun gramatika. Suatu kisah yang menarik, bisa tersaji secara hambar jika alur yang dipilih tidak tepat. Apalagi bila ditingkahi oleh bahasa yang berantakan.
Aku bukan pengarang, apalagi penulis novel. Aku cuma pernah menulis cerita pendek, puisi, naskah drama dan beberapa novel pendek atau novelette. Itu pun sudah 25-30 tahun yang silam. Selera pembaca pada masa tersebut tentu sangat berbeda dengan selera pembaca masa kini. Apalagi jika dibandingkan dengan perioda terbitnya novel-novel seperti Siti Nurbaya, Kasih yang Tak Kunjung Padam dan lain-lain. Atau pada era tahun 1970-an, sewaktu Ashadi Siregar meroket dengan Cintaku di Kampus Biru.
Singkatnya, jika ingin menulis novel, buat dulu skema ceritanya, lalu tentukan alurnya, kemudian siapkan jalur buat menuturkan cerita tersebut.
Salam!
Pada bagian awal cerita, terlalu banyak kata "nya".....terkesan sedikit boring, kawang...hehehehe
BalasHapusAlurnya apik (bagus) dan renyah...mudah dipahami dan saya membacanya pun bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu...top..
Novel pertama ini, menurutku, lumayanlah untuk langkah awal dalam penulisan karakter....*uhuy...*